Begitu, kecil Oto berada di kamarnya, menatap gunung-gunung yang besar di luar jendela, serta burung elang yang terduduk di puncak gunung. Burung elang itu tiba-tiba terus mengeong kepadanya, suaranya sedih dan menakutkan.
"Apakah mungkin ada hal yang tidak baik di dalam rumah ini? Jika tidak, mengapa burung itu terus mengeong?" Oto merasa bingung, tetapi setelah berpikir panjang dan pendek, dia masih tidak bisa memahami apa pun.
Pada saat itu, dia kembali mengingat kenangan masa kecilnya. Ketika dia berpikir tentang masa lalunya, dia ingat ibunya. Tanpa ibu, dia tidak akan ada di sini sekarang.
Pada waktu itu, dia telah bekerja di ladang tanah liat, siap untuk makan di rumah. Tentu saja, dia harus membersihkan kaki terlebih dahulu sebelum makan. Bagaimana dia bisa makan jika kaki-nya kotor?
Tempat membersihkan kaki hanya ada di kolam kecil di depan pintu rumah, biasanya ada beberapa ikan kecil di dalamnya. Namun pada saat itu, airnya sangat gelap sehingga hampir tidak bisa dilihat apa-apa.
Oto berdiri di batu di tepi kolam, batunya licin namun cukup untuk membersihkan kaki dengan baik. Dia naik ke batu tersebut, hanya setelah kaki-nya bersih barulah dia bisa makan. Jika tidak, ayahnya pasti akan marah padanya.
Dia baru saja naik ke batu tersebut ketika tiba-tiba merasa seperti ada yang mendorongnya. Namun, ketika dia membuka mata dan melihat sekitar, tidak ada orang yang mendorongnya. Apa yang terjadi?
Oto jatuh ke dalam kolam, dan merasa sesuatu di bawah kakinya. Setelah keluar dari kolam, dia menyadari bahwa kakinya sudah memerah dan berdarah.
Oto terkejut dan menangis, mungkin karena merasa akan mati. Anak-anak takut dengan hal-hal seperti itu, jadi dia menangis.
Beruntung ibunya datang dan menutup luka dengan tangannya, menghentikan darah yang keluar. Oto terus menghela nafas, ibunya benar-benar hebat, dia harus mengucapkannya. Tapi di mana ibunya sekarang?
Hujan masih turun di luar, membuat malam semakin gelap. Dia melihat pohon-pohon raksasa di gunung yang sebelumnya bisa dilihat sekarang hilang dalam kegelapan.
Oto mematikan lampu dan duduk sendiri di meja tulis, membaca buku. Buku meskipun tipis namun tebal, hanya sedikit orang yang bisa memahaminya di desa kosong ini.
Sejak pulang dari sekolah, dia membaca buku malam demi malam. Hanya dengan membaca, kesedihan yang tersimpan dalam hatinya dapat hilang. Hanya dengan menghilangkan kesedihan itulah dia bisa merasa sedikit bahagia.
Namun pada saat itu, membaca juga tidak nyaman. Ada orang-orang yang marah-marah di luar. Bayangkan ibunya yang hebat pernah didengar marah-marah seperti itu! Oto merasa marah, tapi dia tidak berani berkomentar. Dia hanya seorang siswa dan tentu saja akan tertelan oleh para lelaki kasar di desa ini.
Meski begitu, dia tidak mau menyerah. Mengapa takut? Mungkin melihat pulau kecil dari sungai ini akan bagus juga. Setidaknya dia bisa duduk di batu-batu halus dan mendengarkan lagu gadis-gadis.
Oto masuk ke sungai, beruntung airnya tidak terlalu dingin. Namun pada malam hari seperti ini, air sungai tampak dingin. Ketika dia masuk ke sungai, tiba-tiba kulitnya mulai bergetar seperti ayam potong. Tidak begitu takut kan? Tapi ya, dia merasa takut dan tidak tahu apa yang membuatnya takut.
Dia mendengar bahwa ada orang yang tenggelam di sungai ini sebelumnya dan ada banyak legenda horor setelahnya. Namun Oto tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Setelah mati, apa lagi yang bisa terjadi?
Namun ketika dia masuk ke sungai, dia mulai merasa takut. Air sungai sangat dingin dan menyeramkan seperti angin musim dingin yang menusuk tulang. Dia bergerak dengan gemetar ketika mencoba mencapai tengah sungai. Apa yang akan terjadi jika sesuatu menangkap kakinya?
Selain itu, pada tengah malam seperti ini, jika dia meminta tolong tidak ada yang akan membantu. Dia hanya bisa menunggu mati.
Ketika mencapai tengah sungai, burung elang terus mengelilinginya seperti ingin mendarat di kepala Oto. Namun setelah melihat bahwa bukan pohon atau batu, burung itu akhirnya pergi.
Oto menghela nafas lega. Terima kasih kepada burung itu masih memiliki sedikit hati nurani. Jika burung itu mendarat di kepala Oto, beratnya saja sudah cukup untuk membuatnya mati tak sadarkan diri.
Angin berhembus keras dan ombak tinggi. Dalam air sungai itu Oto merasa bingung dan kehilangan arah.
Oto tidak ingin berenang lagi tetapi harus tetap maju. Jika berhenti sekarang konsekuensinya sangat buruk.
Setelah berenang selama beberapa waktu, dia merasa lelah. Jika tetap berada di air lebih lama lagi hidupnya mungkin akan habis.
Oto berhasil sampai ke tepi sungai lainnya dan duduk di batu halus sambil melihat bulan yang cantik di langit malam. Bulan itu sangat indah sehingga membuatnya terpesona.
Angin datang membawa sedikit kedinginan. Meskipun demikian, duduk di tepi sungai ini membuatnya merasa lebih tenang. Dia duduk diam sebentar di pulau kecil itu sebelum kembali masuk ke sungai dan mencapai tepi lainnya.
Dia kembali ke rumahnya dan duduk di meja tulis sambil melihat jendela. Hujan masih turun di luar namun suara hujan membuat pikirannya bingung. Bagaimana hidupnya nanti? Mengapa dia masih duduk disini?